Saturday, March 12, 2011

[di hari hatinya tertinggal pesawat]

dia diam di pintu masuk lapangan terbang.

bagaimana dia boleh lupa? bagaimana dia boleh lupa dengan perkara paling penting untuk dibawa ke mana-mana? tanpa pasport, dia masih boleh mengelilingi dunia dengan imaginasi sedia liarnya. tanpa jiwa?

ke mana dia boleh pergi?

dia toleh kanan dan kiri.

tidak cukup masa.
tidak cukup masa untuk dia memandu pulang ke rumah, mengambil hati yang tertinggal.
tidak cukup masa untuk masukkan semula jiwanya ke dalam raga. bukan, bukan bakul.

dia bingung. pesawat akan berlepas dalam masa sembilan puluh minit.
pilihannya cuma dua; tidak naik pesawat dan pulang ke rumah serta menghadap keruntuhan hidupnya buat kesekian kalinya atau teruskan perjalanan, tanpa suatu yang paling penting untuk dibawa: hati. dan jiwa.

dia duduk. cuba bernafas. elok. cikup sifat. nafasnya masih ada. darahnya masih mengalir. nadinya masih berdenyut. dia hampir saja bisa mendengar tubuhnya berfungsi. berputar segala melawan arah.

jika dia masih hidup, jelaslah. yang tertinggal bukan yang bisa dipegang. bukan organ yang bisa berhenti. dia tambah buntu. langkah orang ramai lalu lalang di hadapannya langsung tak punya makna. seolah seluruh keluasan lapangan terbang cuma diisi dengan bunyi deru nafasnya yang panjang, dan laju.

bagai dalam vakum. terowong kosong yang tidak berlampu. cuma samar cahaya dihujung bisa terlihat. jaraknya tak dapat ditelah. buntu, tambah buntu.

bagaimana?
bagaimana bisa dia terlalu cuai.
sedangkan sewaktu mengemas bagasi, dia elok menulis segala keperluan untuk dimasukkan.
buku kegemaran, pen merah dan biru, kain batik, pelembap bibir.
kali ini dia tidak terlupa memasukkan berus gigi kedua. kalau-kalau bagasinya hilang.

cuma dia terlupa yang itu.





dia nekad.

perjalanan yang sudah dia mula, harus dia teruskan.
berbaloi atau tidak, dia sudah tidak mahu tahu.
dia tahu sebahagian dirinya tidak dapat menerima kenyataan.
segala makhluk yang wujud di lapangan terbang yang luas itu bagai mengejek:

"kau teruskan juga duhai perempuan?"

patung di hadapan kedai menegurnya:
"sayang, kau berjalan...hatimu tak ada. kau sedar?"

dia abaikan.

buku-buku di rak kedai menggeleng-geleng tidak percaya.
pertama kali teman baik mereka datang tanpa jiwa.

"duhai, kami bisa saja bawa kau ke mana-mana dengan aksara yang tersusun indah. tapi tidak kali ini sayang. tidak boleh tanpa hati. pulanglah"

dia abaikan lagi.

diamlah!







dia sudah tidak peduli. didiamkan segala yang disekeliling.
kali ini. aku tak akan tertipu lagi.


perlu apa dengan yang sudah rosak dan mati?
biar aku berjalan tanpa hati.





pesawat berlepas.
dan hatinya tertinggal.




dia tidak sengaja!




.

8 comments:

Akhyar said...

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!


beznye bace..


er,tu lah,sape suh gi sorang2.saya memang rindu suara yang berleter dan menegur, 'eri,paspot bowok doh?'

hehe,'teman' berharga bila mereka menampung 'kelemahan' kita.

[sme gk kes trtinggal kamera tu.keh2]

najihahusna said...

best!

zeqzeq said...

Mana kapalnya

SyienDong said...

Oh ini menarik. Terlalu!

hamshira said...

Zul,
nai apa jerit2 niii..
pukul kang~


ha, bulan enam balik kan insya Allah? jangan lupa bawa hati ok, nanti ada pulak lagu:

"hatiku tertinggal di irbid"

alhamdulillah, rezeki kamu sungguh kamera tu.



najiha husna,
:)
eh, akak sukalah belog awak.
umur awak berapa ek?
sekolah lagi tak?
konfius.



zeqzeq,
di klia, kemungkinan besar.




SyienDong,
awak adik beradik kakasy atau Lin Dan kah?
atau lee chong wei?
heee...sukati main teka

:)
oh,
alhamdulillah terima kasih!



___________________________________

pesan buat semua,
hati kamu, sebagaimana rosak dan usang, jangan pernah ditinggalkan ya!



bisa aja dipulihkan.



insya Allah ?

SyienDong said...

SyienDong, msshiedadida, kakashi, Syahida Majid, er, ada lagi sebenarnya. Banyakkkk

Adalah watak yang sama! :D

Anonymous said...

deep. =)

mana lebih tepat sebenarnya Aishah?
tinggalkan atau diusung hati yang rosak dan mati?

Izzati Hashim said...

nice! tersenyum baca sebuah monolog hati itu (=

perempuan

bismillah

It’s a habit of yours to walk slowly.
You hold a grudge for years.
With such heaviness, how can you be modest?
With such attachments, do you expect to arrive anywhere?

Be wide as the air to learn a secret.
Right now you’re equal portions clay
and water, thick mud.

Abraham learned how the sun and moon and the stars all set.
He said, No longer will I try to assign partners for God.

You are so weak. Give up to Grace.
The ocean takes care of each wave
till it gets to the shore.
You need more help than you know.
You’re trying to live your life in open scaffolding.
Say Bismillah, In the Name of God,
as the priest does with a knife when he offers an animal.

Bismillah your old self
to find your real name.


Maulana Jalaludin Rumi

FOR HEAVEN'S SAKE, MY HEART!

By Gibran

For heaven's sake, my heart, keep secret your love,
and hide the secret from those you see
and you will have better fortune.

He who reveals secrets is considered fool;
silence and secrecy are much better for him
who falls in love.

For heaven's sake, my heart, if someone asks,
"What has happened?" do not answer.
If you are asked, 'Who is she?"
Say she is in love with another.
And pretend that it is of no consequence.

For heaven's sake, my love, conceal your passion;
your sickness is also your medicine because love
to the soul is as wine in a glass- what you
see is liquid, what is hidden is its spirit.

For heaven's sake, my heart, conceal your troubles;
then, should the seas roar and the skies fall,
you will be safe.



.

bukan semua soalan ada jawapan kan?

awak tak follow bukan sebab awak tak sayang, kan?

FEEDJIT Live Traffic Feed